Terlalu pintar sehingga bisa menyembunyikan perasaan... atau Allah memang menghadirkan kemampuan itu bagi anak-anak spesial seperti mereka..
Tersenyum, menjawab pertanyaan, antusias berkomentar terhadap pelajaran.., walaupun kadang cacing dalam perut bernyanyi riang.. mungkin ini deskripsi yang tepat untuk menggambarkan sosoknya.. Ya memang tak selamanya kesedihan harus ditangisi, tak selamanya kekurangan berbuah kepedihan.. Jika tidak bisa makan (baca : karena tidak ada makanan) pada saat cacing di perut sudah berdendang di sebut kelaparan, maka kata sifat lain yang tepat untuk mengiringinya adalah kesedihan dan selanjutnya kepedihan..
Sosok itu bernama Agustian.., nama yang sesuai dengan bulan kelahirannya. Perkenalan pertama dengannya cukup spesial, kata seorang teman kehadirannya di SD Juara seperti iklan layanan masyarakat episode Wajar (Wajib Belajar) 9 Tahun dan Program BOS (Bantuan Operasional Sekolah)..
Ia berdiri di luar kelas, bersisian dengan jendela, sambil mengamati anak – anak lain yang sedang belajar... Ia hanya berdiri, memperhatikan dengan seksama guru menerangkan.. Sesaat kemudian berpindah ke kelas lain dan mulai mencatat pelajaran ketika mendapatkan sehelai kertas dari seorang siswa yang ternyata temannya.. Bukan, ia bukan tergolong muzaqi sehingga tidak berhak untuk belajar di sekolah ini.., tak ada satu halpun pada dirinya yang dapat menggugurkan haknya untuk masuk sekolah ini... Ia nyata sempurna perlu bantuan... dan pendidikan, apalagi melihat antusiasnya mengikuti pelajaran walaupun hanya dari luar..
Masalahnya, ia tidak dapat menghadirkan orang tuanya, wali atau orang dewasa lainnya yang dapat bertanggung jawab atas dirinya.. Spekulasi bukan cara yang tepat untuk saat itu, karena beberapa waktu yang lalu anak-anak di sekitar tempat tinggalnya ada yang terjaring kasus sodomi.., dan kita ingin mengetahui profil dia terlebih dahulu..
Itu perkenalan pertama, selanjutnya ia boleh belajar di sekolah ini, setelah dilakukan survey awal ke rumahnya..
Diringi dengan tangis, sang ibu menceritakan kondisinya...panjang lebar..., rasanya seperti disuguhi sinetron Indonesia..mengharu biru..dan mungin inii memang potret wajah kehidupan rakyat Indonesia.. Keterbatasan ekonomi, selanjutnya broken home, diikuti turunan berikutnya, anak-anak tidak betah di rumah, pendidikan terlantar, dan yang paling ekstrim, anak belajar ‘mengusahakan’ sendiri kehidupannya.. Jadilah bekerja untuk memenuhi hajat hidup.. dia, dan keluarganya kalau perlu. “ Mama ambil dulu di warung depan, nanti Tian pulang kerja baru dibayar ”.. “ Orang tua mana bu yang sanggup makan dari uang anaknya...anak sekecil itu lagi “... ini salah satu ungkapan perasaan sang ibu..
Seiring waktu, dia telah resmi menjadi siswa SD Juara, ternyata ibunya dalam kondisi sakit sehingga tidak dapat langsung mendaftarkan Tian.. Pengecualian diberikan, jika sudah sehat segala administrasi diselesaikan..
Dia hanya duduk di pustaka atau bermain bola ketika anak-anak lain sibuk mengisi perut mereka. Tidak bawa bekal, tidak sempat masak, takut telat dan banyak alasan lainnya ketika ditanyakan kenapa tidak makan.. Itu hanya alasan klise sebagai penganti penyebab utamanya...bahwa tidak ada makanan yang bisa dimakan..bahwa tidak ada stok makanan di rumah, bahwa mama masih sakit sehingga belum bisa bekerja..atau Tian tidak punya uang lagi karena sudah dipecat dari tempat kerja..
Teman-teman yang mau berbagi menjadi sesuatu yang membahagiakan baginya.., cacing perut tidak terlalu nyaring bernyanyi untuk sementara waktu. Tapi ini tidak bisa selamanya, karena teman yang lain juga dalam keterbatasan.. Atau para ustad dan uztadzah tidak mungin selalu berpura-pura di depan anak yang lain dengan mengatakan uang yang diberikan sebagai tabungan Tian..
Pulang ke rumah ketika waktu istirahat ? ini juga bukan solusi...karena di rumah juga tidak ada makanan... Hingga akhirnya tiba ramadahan, ini kesyukuran berikutnya bagi Tian, waktu makan jadi tinggal 2 x.. saat berbuka dan sahur.. Tapi ini tetap sebagai masalah.. Hanya saja, kedermawanan jama’ah mesjid bisa menjadi solusi selama bulan ini. Jadilah Tian sebagai musafir, paling betah tinggal di mesjid.., karena selalu ada tangan yang terulur memberi infak.. Tak sengaja ia berkata.. “ Ustadzah, orang-orang yang sholat ashar tidak pelit seperti sholat dzuhur..mereka lebih banyak memberi...” Astaqfirullah nak..., tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah, jangan pernah senang dengan pemberian orang lain.. tap berbanggalah ketika kita yang bisa memberi.. Saat berbuka tidak pernah menjadi masalah lagi, selain di mesjid juga disediakan ta’jil gratis..
Karena rumah tak lagi menjadi baiti janati, tinggal di mesjid menjadi hal menyenangkan berikutnya.. hanya saja makan sahur menjadi masalah, apalagi ketika tak ada uang dan sumbangan dari jama’ah.., hingga sempat beberapa kali ustad dan ustadzah bergantian mengantarkan makan sahur untuknya..
Makanan menjadi sesuatu yang penting bagi anak seusia Tian dan anak-anak lain seusia dengannya... mereka dalam masa-masa emas pertumbuhan dan perkembangan. Tapi ketika keadaan menjadi tidak bersahabat, apa mau dikata...hidup masih terus berjalan, badan sehat saja sudah menjadi sesuatu yang disyukuri, karena ketika sehat, ia masih bisa bekerja untuk makan...
Menyiapkan bekal menjadi sesuatu yang menarik bagi ibu-ibu lain, karena banyak bahan makanan yang bisa dikreasikan pengolahan dan penataannya.. tapi tidak bagi ibu-ibu siswa SD Juara.. Momen setiap pagi ini bisa menjadi pukulan-pukulan berat bagi mereka...seperti masuk ke lubang yang sama setiap hari..., karena dalam kotak bekal anaknya (jika ada) ia hanya mampu memasukkan menu yang sama...mie instan di campur nasi putih sisa kemarin, atau kadang sisa lauk semalam dengan setinggi gunung nasi putihnya...karena yang terpenting adalah kenyang...bukan gizi berimbang..
(Tidak, ini bukan sesuatu yang menyedihkan...bagi kami siswa SD Juara, ya mungkin tingkat kesedihan kami sudah menurun standarnya...bagi orang lain mungkin episode ini bisa mengalirkan air mata, tapi tidak bagi kami...kami masih bisa tersenyum kog...apalagi ketika bertemu dengan ustad dan ustadzah yang penuh cinta setiap pagi ketika menyambut kami...
Dendang lagu.. pagiku cerahku...matahari bersinar, ku sandang tas merahku di pundak.. Slamat pagi smua...ku nantikan dirimu...di depan kelasku menantikan kami...guruku tersayang...guru tercinta... tanpamu apa jadinya aku... rasanya memenuhi cakrawala hari-hari kami....)
With LoVe... for U... every one... anak-anakku... terimakasih telah mengajarkan kesyukuran.. dan berjuta cinta...
(Rabu, 05 November ’08.. Satu hari ba’da pemilihan presiden Amerika.. Akankah merubah wajah kehidupan kami... Wallahua’lam)..
** Ini adalah tulisan LSU ( Learning Unit Suport ) atau BK di SD Juara Pekanbaru **


