Hidup adalah pembelajaran..pembelajaran sepanjang usia..,
Sebuah pepatah mengatakan alam terkembang jadi guru.. Setiap apapun yang kita alami sesungguhnya ada pelajaran yang diselipkan Allah disana…sesuai dengan Al Qur’an surat… dan memang tidak pernah ada yang sia-sia Allah ciptakan..(QS…).
Sedikit pengantar, tulisan ini saya buat dalam bus kota jurusan panam – pasar pusat dalam perjalanan berangkat menuju SDIT Al fityah dari rumah tercinta...
Hari ini belajar tentang berbagi, belajar melihat manusia sebenarnya, belajar memahami nurani dan yang terpenting belajar kembali..., menjadi manusia.
Ternyata, tanpa disadari rasa humanis dalam diri kita (bc : saya) pelan-pelan bisa menghilang seiring waktu dan pengalaman tentu saja.
Di bus kota pagi itu tak terlintas harapan diberi kursi oleh seseorang..., laki-laki tentunya.. ( karena idealnya laki-laki adalah makhluk tuhan yang paling gentle..).
Tak dinyana, belum sampe hitungan menit, seorang pahlawan menawarkan kursinya untuk saya.. ragu, kaget, campur sumringah..(ada ya hari gini) ..
Akhirnya saya cukup bisa menikmati perjalan pagi itu..sambil melihat sang pahlawan bergelantungan, berdesak-desakkan dengan penumpang yang lain... miris.. persis sarden dalam kemasan.. karena dalam hitungan menit berikutnya setelah saya duduk, bejubel manusia naik, ingin dipenuhi hajat hidupnya...oleh si bis kota.
Tak ada yang berkomentar dengan tidak manusiawinya perlakuan kernet dan supir yang ugal-ugalan.. Yap bargaining possition ada di tangan mereka, jadi ya cukup dinikmatilah 'layanan memuaskan' itu..
Ternyata dia lebih baik dari saya... dia, sang pahlawan, masih bisa mempertahankan rasa humanisnya, langsung dalam tindakan nyata... bahwa laki-laki harus melindungi perempuan... tidak seperti saya, yang pelan-pelan telah menurunkan standar humanis dalam diri.., dengan berpikir bahwa jangan berharap masih ada laki-laki sebenarnya... (maafkan saya..).
Lagi-lagi Allah mengajarkan saya, tampilan fisik tidak bisa mengukur kepribadian seseorang, dia, sang pahlawan membuktikan itu...jeans belel, tas cangklong, kaos oblong, ternyata bisa menjadi pahlawan,..tak perlu neko-neko.. harus pakai kostum superman supaya jadi pahlawan.., ya dia laki-laki sejati itu, dia manusia itu...
Di bis kota sorenya,...saya jadi pengamat yang manis... kursi sudah dalam kekuasaan saya sejak awal.. Menit terus berjalan, saya menunggu pahlawan..., belum kelihatan...laki-laki manis duduk dengan sangat manisnya...
Sampai dua pasangan paruh baya naik dan mncari kursi kosong... lelah..kosong tatapan mereka, dan harus rela berdiri... ya karena laki-laki dalam bis kota itu tetap jadi laki-laki yang manis... tetap manis duduk di kursi malas mereka,, (huh.. ini betulan laki-laki atau tidak ya)
(maaf kek, nek, kursi saya tidak bisa dibagi lagi... sudah bertiga nih.. maafkan..)...
Wajah laki2 disana sangat manis, dengan baju yang rapi... 'jauh' di banding si kaos oblong pagi tadi... ternyata mereka memang manis...dan manis itu kata sifat yang selalu mengiringi perempuan... Jadi mereka adalah laki2 dengan jiwa perempuan... manis...
Sampai dipemberhentian..., ternyata sore ini tak ada lagi sang pahlawan...tak ada lagi si kaos oblong.
Ternyata, seribu satu laki-laki dalam satu hari ini telah kehilangan nalurinya... laki-laki sebenarnya hanya satu diantara seribu.. Apakah anda termasuk yang satu…
** Di Tulis oleh kak Esy u/ p’ Syahrul dan Ilham ^_^ **



